Saturday, October 4, 2014

Titipan Senja

Asaku,..
dido'amu ada namaku
disenjamu ada hadirku
ku titip salam pada sang bayu
mengganti musim dingin berlalu
dan tenteram kita selalu.

Tentangmu,..
aroma seribu bunga
nun tak sampai ke kutub utara
beku dan gersang nyata berbeda
segala yang usang biarlah sirna,

Ada mimpi diukir sastra
ada hati bertembang cinta
ada bukti lahirkan nista
yakni noda menjadi cela
gugur bunga jatuh dan fana,


Cerita Rindu

Saat ini,..
kan mungkin rasaku bukan kiasan
pun yakin hadirmu bukan hiasan,

Dan nanti,..
ku untai getar insani
bak dawai cipta melodi
senandung tu sang kekasih,

Dan bila,..
terbentang masa tuk kita
membasuh jelaga lama
yang keruh bersimbah noda,

Semoga,..
di riuh hadirmu nyata
di hening selalu menjelma
menyingkat ruang dan masa,-

 


Suntingan Angan

Wajahmu, sedap dipandang
bayangmu, selalu ku undang
menari, indah di angan
menabur, derai senyuman
selamanya, jangan menghilang.

Ooh,. Dewi, bunga di hati
mekarlah, tak hanya mimpi
di sunting, rasa indrawi
laksana. embun nan jernih
pesona, hayati hati/

Dan bila, masanya tiba
khalayak, anak manusia
bertitah, Adam dan Hawa
tuk satu, memaut jiwa
mengikat janji setia.



Friday, October 3, 2014

Cerita Yang Tak Sempurna

Malam dan malang
setelah hilang dari pautan siang,
gelap bertembang
melagukan lirik-lirik sumbang,

Aku yang jatuh
tersungkur di lembah pilu,
memanggil tak dihiraukan waktu
hilang gerak mati kutu,

Salahkah bahu
lambat berjalan karena bebanku,
acuhkan impian dalam tidurku
di kesadaran ku sandarkan kalbu.



Pantun Semusim

Mawar setangkai menghias taman
merahlah warna dihijau waktu
tawar kurangkai paras idaman
rebah pesona diigau palsu,

Setangkai melati jadi kiasan
menghias kata berindah indah
merangkai hati hanya ucapan
selepas rasa akhirnya gundah,

Taman kalbu harus dijaga
seperti putih bunga melati
Jangan dulu berkata cinta
bila akhirnya berganti benci,-








Tiada Berbeda

Glamor, itu gayanya
amor, ala hidupnya
sohor, jadi mimpinya
slebor, motivasinya
kotor, pada akhirnya,

Awan mendung
menjadi kidung
menuding tudung
sebanding terkandung
asing mengungkung
alim berselubung
membuat bingung
majnun !






T A N Y A

Negeri,..
Pemimpinnya kurang kursi
hilang rela mengabdi sambil berdiri
maklum banyak hutang pribadi
berupa materi dan jua janji,

Politikusnya sikut-sikutan
birokrasinya asyik suap suapan
pejabatnya lupa daratan
LSM ketularan,

Penyakit gila
penyakit latah
menyebar merata
negeri begini salah siapa ??




Elegi Kidung Hati

Katup anganku terbuka
berpaling dari nyata dan terlena
berdiri ditatap paras bumi
bersama riuh hidup menari-nari
batinku gersang panas memanggang
keringnya ladang berdendang
kemarau bak tak pernah usang
denganmu ceria
tak kenal tak pernah jumpa
seakan enggan bertegur sapa
sesekali berpapasan langsung berpisah
wahai ruang kering
abadikah dawaimu berdenting ?
menceritakan nada nestafa
mengiring lirik sya'r-sya'r fatamorgana
tidakah hidup berganti rupa
disusun warna menyulam cinta
ataukah ia seperti pelangi
yang hanya ada sesekali ?
mungkin ia berwujud mimpi
saat terbangun hilang bunyi
tertidur lagi tak lagi ditemui
kebahagiaan,..
engkau bak rembulan
yang indah dalam tatapan
diundang tak datang
dikejar tiada harapan,-





Senandung Cinta

Manja bahasa penyinta
berharap biasa
akan selalu bermesra
mencerai masalah
mestinya dewasa,

Rapuh disaat merindu
bahasanya tak lain kamu
bertemu menyatu
selalu begitu
sejak dari dulu,

Dalam cinta ada rahasia
hakikat menyerta
tiada terjemah
yang mudah menjamah
mari di telaah,

Bahasa rindu lebih dimau
segala tak ingin ditahu
kadang membuat rapuh
sedikit yang utuh
yang lain membatu,




Semoga Hati

Tiada terpungkir lagi
tentang nikmat membelah hati
sebelah dilangit setengah di bumi
dua mendengarkan satu menuliskan
dua membacakan satu mengartikan
terlukis atas dasar tiga jemari tangan
sungguh pemalu kalbuku
yang hanya mampu menulis rindu
disapa dunia mau tak mau,


Betapa jenaka ku punya pustaka
inginkan dunia seperti terpinta
ingkari akhirat bak tak akan ada
jadi isyarat insan menghamba
ku bukan tuan tetapi pekerja
jalankan peran bukanlah sutradara
sebagai kiasan lapangnya dada
karena baban bahu merendah
karena pengetahuan menunduk wajah
dan karena lemah ku panjatkan do'a,-






Malam Kita

Tentang cerita malam
setelah akal menggapai rasa
setelah rasa semua biasa
setelah biasa bias tak menyerta
setelah nyata memaklumi gulita
setelahnya semua bermanja
setelahnya melaju saja
sebut saja aku salju kutub utara
atau katakan samudera antartika
lalui lautan api pada diri
lewati lautan gelap yang nyeri
meninggalkan benderang
Jalani lengang
menanti kenangan di masa depan
sengaja ku undang sebelum datang,-







Seruan

Jalan dakwah
ada tamparan yang menggoda
ada jalan saat terjaga
ada himbauan yang dirasa
ada kiat-kiat yang indah
ada pesan tentang pesona
ada kiasan yang disengaja
ada tawa yang disuka
ada pemberian yang diterima
ada manfaat disuatu masa
ada nikmat yang maya
ada ajimat yang mandraguna
ada cerita tentang kenangan
ada arti yang dimengerti
ada suka pula berat hati
ada yang tak mampu dimengerti
ada yang sekedar bunyi
ada visi pula misi
ada kebiasaan yang mengisi
ada toleransi dan dispensasi
ada bunyi jua seni
ada gen dan generasi
ada diskriminasi
ada yang terjual ada terbeli
ada yang ingkar
ada yang rendah jua meninggi
ada yang umum atau terkhususi
ada yang di kepala dan sampai kehati
ada yang terlupa ada yang abadi
ada yang akhir ada yang mula
jalan Dakwahmu indah
Terima kasih turut menyerta
mengiring do'a untuk semua
semoga Berkah Lillahi Ta'ala,-




Senja Meremang

Senja yang melihatku
dan aku yang tersipu
bersemilir rasa ku ukir
yang mengalir di hati hadir
kelopak kita di kuning tembaga,
Datang remang merembang petang
telah berjalan lelah di siang lapang
pada Ridho'Mu daku merayu
tuntunlah daku semestinya rindu
berawal akal lalu rasaku,
Cerita kita dendang jenaka
mencari harum di kuncup masa
bilakah mekar harapan jiwa
lalui sukar tetamu hamba
mengajak ingkar amanat jiwa
bagai kelakar senyuman nista.





Diantara Mata

Ooh,.. kamu tetamu
senja meniti bagai berlari
mandi sang dewa dewi
di danau cahaya jernih
terpadam percikan
diguyur tembang samawi
menceritakan pesan
diraut siratan
bunyi bahasa tanpa suara
basahi kalbu sampai dahaga
tembangkan rindu
karena cinta,-




Pengekor

Ini zaman lembu merumput
berkerumun di padang lega
keledai-keledai barat makan di timur
merampas tunas pendekan umur
sia-sia engkau melata
berindah indah beringsut dusta
banyak habitat turut menyerta
berpinggang ketat erat nun nista
aku tak cemburu dengan kesanmu
meski yang lain tertanam rindu
biar membeku kalbu membatu
itu jalanmu bukan arahku,-







Bertolak Hati

Seperti sang bayu
malam turun dari bebukitan
meliuk tanpa sekatan
membuat samar pandangan
merengkuh kotaku nan kusam
lalu segala diam segala lengang
membaca prasangka isi kepala
nyaris celaka sesak di dada
kelam sehitam jelaga
sedang tiada tanya mengapa
lunglai diri di pangkuan hati
ku tutup pintu lalu ku kunci
setelah dunia bilang permisi
balikan badan beranjak pergi
saling menjauh membelakangi
tiada pernah menoleh lagi,-







Awal Memula

Kecuplah subuh yatim piatu
belailah embun menimbun daun
jernih di ujung membuat lengkung
jatuh didukung dilambai daun
saling melepas berayun-ayun,
Sebelum keruh kan dimulai
disengat hasrat manusiawi
yang telah lekat haqul adami
do'a bersemat memula hari
mentari lewat mari syukuri
sebagai nikmat dari Illahi,-






Fitnah Asamara

Cerita kita kumbang dan bunga
di padang rumput seri nan indah
saksikan musim penuh nuansa
diiring merdu bedug bertalu
bermula takbir pertanda subuh
ada rindu sekerat kalbu
terasa berat dalam mimpiku
rasa bersurat syahdu untukmu
lama menjerat alam rasaku
hampir sekarat berat bebanku
bagai ajimat ku rawat selalu
lacur melumat alam hayalku
syirik menjilat karena hausku
bagai muhjizat alam sadarku
sebagai Rahmat Penggenggam kalbu
tiada dunia beri sekutu
yang lain sirna Hanya Yang Satu.






Prasasti

ujurlah wahai pelantun
kuburlah jika tak santun
berbudi elok menuntun
berbagi berkah tersusun
selagi diberi maklum
tak sadar disebut majnun
dan pudar jadi al-marhum,
Masa kita menanam kembang
rasa kita lantunkan tembang
bila jiwa ceraikan badan
segala sempat takkan terulang
terpejam diam tidur dilubang
terbujur lelap membawa beban
huni pusara bertihang nisan,-






Dia Berkisah

Dahulu anak itu masih beribu
sepanjang waktu dibuai selalu
jika datang satu masa
kasih ibunda tersendat lara
jalani sakit yang telah mendera
ditepian ranjang alam hunian
memberi perawatan siang dan malam
waktu melemah semakin suram
lemas kaki tak mampu melangkah lagi
harus digendong sepanjang hari
anak itu setia menemani
apalah dikata takdir mendapati
dipangkuan ibunda pergi
tiada sekejap pandang terlewat
jiwa terguncang begitu hebat
jangankan menjerit berucap pun tak dapat
hanya kenangan masih teringat
dan airmata terasa hangat
itulah duka teramat menyengat
terturut sebagian nyawa tersemat
kini ananda jadi ajimat
diwajah dunia hampa tak nikmat,-







Renungan Senja

Lubuk kalbu dipangku
rindu dihadapan,
asa di bola mata
kenangan tak terhingga,
Akal,..
tak bersediakah engkau mengubur lara ?
Hati,..
tidakah engkau artikan bahagia ?
Senja kan berlalu,..
malam terasa mulai merayu,
tawar menawar nalar dan kalbu,
di tepian rasa daku termangu
sebagai kafarat masa laluku,-