Tali erat tersimpul siasat,
andai menghadap hati terlanjur berkarat,
bagai sekarat engkau hianat
dikubangan langkahku terjerat
gelapnya dunia laksana kiamat,
Wajah tengadah pucat pasi
selalu keruh dikalbu berseru,
mulut terbuka tak tahan mencela,
engkaulah muara cinta dan kebencian diri,
lalu kubawa luka ini lari menepi,
kunikmati saja rindu dan benci ini,
mungkin kan ada sebelum berganti
akankah abadi bertempat dihati,
Adalah namamu memuakkan bagiku
andaipun kerinduan ini begitu menyiksaku
namun semua adalah percuma
terlanjur gelap kurasa di jiwa mendera,
karena engkau t'lah tega saat bersama
memberi cinta berikut rindunya.
Dikedalaman sembilu kau sayatkan
kini kurasa perihnya penyesalan
mataku buta gelapnya tujuan
dihati yang ada seonggok luka
entah dimana kucari penawarnya
serasa yang ada gelap dan hampa,-
Setinggi-tingginya tempat, sejauh-jauhnya jarak, selama-lamanya saat, Bila didapat ia di diri.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Di saat rembulan bertanya kapankah akan sehati dengan sang mentari? bintang pun turut berlagu "aku datang untukmu" mega kelabu...
-
Melalang ke ujung harapan menyeberang di batas kesunyian muncul dan hilang bagai percikan dan aku merona memantik pesona untuk malam la...
-
Bergumam tentang tawa disatu masa menyuratkan banyak kabar dari bentangan masa yang lebar satu satu ku balas senyummu meski berderai ai...
No comments:
Post a Comment