Monday, September 21, 2020

DI MAYANG HATI

Memandang nasib yang jauh Sambil mengharapkan kebaikannya Ada rasa ingin bersegera terwujud Nun sadari keterbatasan diri Tuk berserah diri pada saat. Dan sesekali kami Berulang Mayang berasa arang Adalah tersebab besar kerinduan Membelenggu fikir menjadi dzikir Terselip ketakutan tak Alang Surut pasang iman kepayang. Nun pada gugus lereng kalbu Di kaki langit diri bersimpuh Menadah kemurahan Rahmat'Mu Dari kerumitan hidup nan berliku Tanamkan biji malu beraku aku Yang senyatanya berlaku Jadilah diam di diriku. Wahai duriyat cinta dari Sang Maha Tuangkan hamba hingga dahaga Atas cawan hidup nan rahasia Yakni seisi tabir disimpan misteri Bak bongkahan es menetes pasti Izinkan ku teguk meski sekali Tuk pupus keruh di dalam diri Menjadi bekal di hidup nanti Dan ini slalu ku Aamini Pun ku imani. cirebon, 21.09.2020 http://syairsastra.art.blog https://www.youtube.com/user/tisnahariri

Wednesday, September 16, 2020

LENGGANG LABUH

Lenggang gemulai waktu Kiri-kanan langkah terhuyung Perbendaharaan hidup bersenandung Leluasa pilihan tuk tarikannya Dua sisi mana disuka. Lekuk keluk berliku Lorong takdir menarik kaki Ada langkah diam pun berlari Adapula yang mengayun hirau Ambisi menyeret dua kaki. Dan kalbuku hati kita Terombang ambing seketika Dipoles senang berkubang lara Tergores uji terayu coba Nun akal selalu belia. Perjalanan ini senandung lirih Tuk sulam kata rajutan rasa Syairkan dunia kan ada akhirnya Bersurat nikmat bersampul khidmat Selayaknya hamba berbagi isyarat. Cirebon, 16.09.2020ng gemulai waktu Kiri-kanan langkah terhuyung Perbendaharaan hidup bersenandung Leluasa pilihan tuk tarikannya Dua sisi mana disuka. Lekuk keluk berliku Lorong takdir menarik kaki Ada langkah diam pun berlari Adapula yang mengayun hirau Ambisi menyeret dua kaki. Dan kalbuku hati kita Terombang ambing seketika Dipoles senang berkubang lara Tergores uji terayu coba Nun akal selalu belia. Perjalanan ini senandung lirih Tuk sulam kata rajutan rasa Syairkan dunia kan ada akhirnya Bersurat nikmat bersampul khidmat Selayaknya hamba berbagi isyarat. Cirebon, 16.09.2020 https://syairsastra.art.blog/

Saturday, November 16, 2019

IRAMA KASIH

Cinta ini telah direguk
Dari bejana bening kasih
Berceret bulat melingkar
Bertangkai cahaya
Bewarna senyum
Ketulusan. 

Dan bila kaki menapak jejak
Helai demi helai terhirup nafas
Kejap berkejap saat pergi
Maka membaralah kematangan
Dan jiwa bertegur sapa
Coba mengertikanku
Setelah kau artikanku. 

Dan bila, engkau dilambungkan hayal
Gemulai mimpi bercerita syahdu
Tentang kemerduan rindu kalbu
Maka taburkanlah do'a-do'a
Kini hingga nanti saat senja. 

Namun ketika aku adalah ujianmu
Tabahlah berpatah tangis
Tegarlah dilukai perih
Sebab yang hilang akan terganti
Tiada amal baik yang berbalas rugi
Bermesralah pada berkahmu. 

Crb,  16 nov'19
Tisna Hariri Barbatully​​



Friday, November 15, 2019

Orang yang melampaui iblis dan raja fir'aun

Orang yang melampaui iblis dan fir'aun. 

Dalam kitab An-nawadir dituliskan oleh syeikh syihabudin ahmad bin salah almisryi alqolyubi asyafi'i  , bahwa berbincang antara iblis dan raja fir'aun, maka berkatalah iblis : 

"wahai firaun satu satu satunya hal yang bisa kau perbuat sedang aku tak bisa melakukannya"

Maka bertanyalah firaun :
"Gerangan apakah itu? "

Iblis menjawab :
"aku adalah mahluk terlaknat, tetapi aku tidak pernah mengakui diriku sebagai tuhan, meskipun aku lebih hebat dan kuat daripada kamu".

Firaun pun bertanya :
"adakah mahluk lain yang melampaui kelaknatan kita? "

Iblis menjawab :
"tentu saja ada"

Firaun bertanya lagi :
"mahluk apakah itu? "

Iblis pun menjawab :
"dia adalah manusia yang tidak mau memaafkan orang yang meminta maaf"

Demikianlah kisah ini dituliskan, semoga bisa dijadikan sebagai barometer, betapa Allah Swt, Sungguh Maha Memaafkan, namun kenapa kita yang hanya sebagai mahluk yang lemah, begitu sombong menolak untuk saling memaafkan, Wallahu A'lam bi murrhodhi. 




CITRA KASIH

(prolog Seruling ijazil) 

Wajah wajah perindu palsu
Bias pada gelora gairah
Menyetujui hasrat lejang
Menggapai angin. 

Dan muara itu bertabir
Arus jua riak samudera
Terendap antara ujung pangkal
Atas bawah tak pasti
Diapung hayal. 

Semoga termaafkan takdir
Yang mendera lagi bisu
Menggores sana-sini
Frustasi akan kasih
Tak terjelang hingga pergi. 

Khayali terbelenggu lalu
Inderawi memupuk laku
Sebab hidup di bumi sesal
Dipijak tapak nasib 
Sesak pada nyata dan fana
Tersayat nestapa
Jiwanya. 

Crb, 15 nov'19
Tisna Hariri Barbatully​​


Friday, November 8, 2019

TERPUKAU KALBU

Barat timur cahaya
Gelap di dada
Berbisik menggoda
Bak sabda baginda
Bergema jiwa. 

Kalbu nan satu
Luruh tuju kasihku
Beraku aku menyeru
Mendayu dayu syahdu
Akan dan tentang'mu. 

Crb, 8 Nov'19
Tisna Hariri Barbatully​​


Tuesday, October 22, 2019

RASA TERGENANG


Pada ketenangan bermukim bahagia
Buka pada rindu yang menggebu
Begitupun cinta
Padaku yang ku mengeri
Entah padamu dipahami.

Ku tulis bunga saat mekar
Yang entah mekar pada bunga
Ketika pilihan memeluk
Geliatku tak ingin
Inilah keterpaksaan.

Pencarian yang merana
Sebab tujuan ke mana
Sedang rasa terlanjur
Menciptakanku cinta
Beserta pola rayunya. 

Kau pun ajak diri
Tuk persaksikan airmata
Tentang perih dan jernihnya
Bergulir tiada kembali
Ingin pun tak diingini.

Caranya bak berpuisi
Tentang hati dan imaji
Merangkai asa jua destinasi
Esok bahagia kah bersedih
Tentangnya kini ku tanyai. 

Cirebon 12 Okt'19
Tisna Hariri Barbatully. 


Wednesday, October 16, 2019

NYANYIAN MUSIM

Pada diskusi, menyendiri
Kau ucap kita kan pergi
Dan kini menjawab kemana pergi
Kiranya kita dikekang perantauan panjang
Rerasa terombang ambing terbilang
Lelah letih untung saja dirayu bahagia
Sehingga teguh kita menatap muka. 

Ada pula sang bijak bersajak
Walau sesekali ia tetap tak beranjak
Segala mudah pada anggapan
Nun betapa rumit tenggelam mendalam
Dan helaan saat menggurat
Menunggu panggilan yang muslihat
Aku pasti menunggumu
Nun tak pasti engkau ingat akan itu.

Kita sejatinya cerita darah
Yang menites dari awal kisah
Teryakini ketika adam hawa
Bak merantai alur ke kinian sudah
Duh..  Betapa memikirkanmu lelah
Nun ini amanatku beratap dunia
Selagi masih menjejak tanah
Yang samar terlihat rentang tangannya
Menanti saat kita berpisah
Antara jasmani dan jiwa terkasihnya
Kalam telah menulis menjadi pola
Inilah wajah kita hingga akhir masa. 

Cirebon, 16 okt'19
Tisna Hariri Barbatully. 



MASA TERSEPI ADALAH MASA LALU.

Prolog Cita Yang kan tiba. 

Sebuah kesahajaan 
mari kita lepas keterikatan beban lalu
sehingga esok terjawab tanya
dan anggun kebahagiian mendatang
tak enggan merentang tangan. 

Cirebon,  16 okt'19
Tisna Hariri Barbatully​​.


Tuesday, October 15, 2019

HAIKAL KALBU

Pada seperempat malam
menadah fajar yang mengendap
membungkus sunyi tak terharap
merelakan kesendirian terjadi
mengarungi kekata pada jiwa
larut di kedalaman rasa.

Adalah suara kodrati
lengkung lemah daya jadi aral
lekuk keputusan memasung
mungkin seperti ini nasib memangku
untukku resapi kalbu
tuk kekang sengketa rasa
Yang tiada jelas polanya. 

Dan diri bertopang do'a
Saat riuh pula gempita
Mengarak kalbu pada arah
Kemakmuran jiwa mendamba
Semoga husnul khotimah. 




Crb, 15 oktober 2019.
Tisna Hariri Barbatully