Saturday, November 16, 2019

IRAMA KASIH

Cinta ini telah direguk
Dari bejana bening kasih
Berceret bulat melingkar
Bertangkai cahaya
Bewarna senyum
Ketulusan. 

Dan bila kaki menapak jejak
Helai demi helai terhirup nafas
Kejap berkejap saat pergi
Maka membaralah kematangan
Dan jiwa bertegur sapa
Coba mengertikanku
Setelah kau artikanku. 

Dan bila, engkau dilambungkan hayal
Gemulai mimpi bercerita syahdu
Tentang kemerduan rindu kalbu
Maka taburkanlah do'a-do'a
Kini hingga nanti saat senja. 

Namun ketika aku adalah ujianmu
Tabahlah berpatah tangis
Tegarlah dilukai perih
Sebab yang hilang akan terganti
Tiada amal baik yang berbalas rugi
Bermesralah pada berkahmu. 

Crb,  16 nov'19
Tisna Hariri Barbatully​​



Friday, November 15, 2019

Orang yang melampaui iblis dan raja fir'aun

Orang yang melampaui iblis dan fir'aun. 

Dalam kitab An-nawadir dituliskan oleh syeikh syihabudin ahmad bin salah almisryi alqolyubi asyafi'i  , bahwa berbincang antara iblis dan raja fir'aun, maka berkatalah iblis : 

"wahai firaun satu satu satunya hal yang bisa kau perbuat sedang aku tak bisa melakukannya"

Maka bertanyalah firaun :
"Gerangan apakah itu? "

Iblis menjawab :
"aku adalah mahluk terlaknat, tetapi aku tidak pernah mengakui diriku sebagai tuhan, meskipun aku lebih hebat dan kuat daripada kamu".

Firaun pun bertanya :
"adakah mahluk lain yang melampaui kelaknatan kita? "

Iblis menjawab :
"tentu saja ada"

Firaun bertanya lagi :
"mahluk apakah itu? "

Iblis pun menjawab :
"dia adalah manusia yang tidak mau memaafkan orang yang meminta maaf"

Demikianlah kisah ini dituliskan, semoga bisa dijadikan sebagai barometer, betapa Allah Swt, Sungguh Maha Memaafkan, namun kenapa kita yang hanya sebagai mahluk yang lemah, begitu sombong menolak untuk saling memaafkan, Wallahu A'lam bi murrhodhi. 




CITRA KASIH

(prolog Seruling ijazil) 

Wajah wajah perindu palsu
Bias pada gelora gairah
Menyetujui hasrat lejang
Menggapai angin. 

Dan muara itu bertabir
Arus jua riak samudera
Terendap antara ujung pangkal
Atas bawah tak pasti
Diapung hayal. 

Semoga termaafkan takdir
Yang mendera lagi bisu
Menggores sana-sini
Frustasi akan kasih
Tak terjelang hingga pergi. 

Khayali terbelenggu lalu
Inderawi memupuk laku
Sebab hidup di bumi sesal
Dipijak tapak nasib 
Sesak pada nyata dan fana
Tersayat nestapa
Jiwanya. 

Crb, 15 nov'19
Tisna Hariri Barbatully​​


Friday, November 8, 2019

TERPUKAU KALBU

Barat timur cahaya
Gelap di dada
Berbisik menggoda
Bak sabda baginda
Bergema jiwa. 

Kalbu nan satu
Luruh tuju kasihku
Beraku aku menyeru
Mendayu dayu syahdu
Akan dan tentang'mu. 

Crb, 8 Nov'19
Tisna Hariri Barbatully​​


Tuesday, October 22, 2019

RASA TERGENANG


Pada ketenangan bermukim bahagia
Buka pada rindu yang menggebu
Begitupun cinta
Padaku yang ku mengeri
Entah padamu dipahami.

Ku tulis bunga saat mekar
Yang entah mekar pada bunga
Ketika pilihan memeluk
Geliatku tak ingin
Inilah keterpaksaan.

Pencarian yang merana
Sebab tujuan ke mana
Sedang rasa terlanjur
Menciptakanku cinta
Beserta pola rayunya. 

Kau pun ajak diri
Tuk persaksikan airmata
Tentang perih dan jernihnya
Bergulir tiada kembali
Ingin pun tak diingini.

Caranya bak berpuisi
Tentang hati dan imaji
Merangkai asa jua destinasi
Esok bahagia kah bersedih
Tentangnya kini ku tanyai. 

Cirebon 12 Okt'19
Tisna Hariri Barbatully. 


Wednesday, October 16, 2019

NYANYIAN MUSIM

Pada diskusi, menyendiri
Kau ucap kita kan pergi
Dan kini menjawab kemana pergi
Kiranya kita dikekang perantauan panjang
Rerasa terombang ambing terbilang
Lelah letih untung saja dirayu bahagia
Sehingga teguh kita menatap muka. 

Ada pula sang bijak bersajak
Walau sesekali ia tetap tak beranjak
Segala mudah pada anggapan
Nun betapa rumit tenggelam mendalam
Dan helaan saat menggurat
Menunggu panggilan yang muslihat
Aku pasti menunggumu
Nun tak pasti engkau ingat akan itu.

Kita sejatinya cerita darah
Yang menites dari awal kisah
Teryakini ketika adam hawa
Bak merantai alur ke kinian sudah
Duh..  Betapa memikirkanmu lelah
Nun ini amanatku beratap dunia
Selagi masih menjejak tanah
Yang samar terlihat rentang tangannya
Menanti saat kita berpisah
Antara jasmani dan jiwa terkasihnya
Kalam telah menulis menjadi pola
Inilah wajah kita hingga akhir masa. 

Cirebon, 16 okt'19
Tisna Hariri Barbatully. 



MASA TERSEPI ADALAH MASA LALU.

Prolog Cita Yang kan tiba. 

Sebuah kesahajaan 
mari kita lepas keterikatan beban lalu
sehingga esok terjawab tanya
dan anggun kebahagiian mendatang
tak enggan merentang tangan. 

Cirebon,  16 okt'19
Tisna Hariri Barbatully​​.


Tuesday, October 15, 2019

HAIKAL KALBU

Pada seperempat malam
menadah fajar yang mengendap
membungkus sunyi tak terharap
merelakan kesendirian terjadi
mengarungi kekata pada jiwa
larut di kedalaman rasa.

Adalah suara kodrati
lengkung lemah daya jadi aral
lekuk keputusan memasung
mungkin seperti ini nasib memangku
untukku resapi kalbu
tuk kekang sengketa rasa
Yang tiada jelas polanya. 

Dan diri bertopang do'a
Saat riuh pula gempita
Mengarak kalbu pada arah
Kemakmuran jiwa mendamba
Semoga husnul khotimah. 




Crb, 15 oktober 2019.
Tisna Hariri Barbatully



Monday, October 14, 2019

LENGUH KELUH

Mungkin tidaklah akan mudah
sebab pelbagai alasan di sana
didera hujan berjuta goda
karenanya. 

Dan aku cendawan terkira
tidaklah semenawan tera
tidak pula teranggap mewah
menanti kesadaran jiwa
pentingkah cinta. 

Putih putih tulang rusuk
Lengkung sebagai fitrah
Dibuat keras ia patah
Terbiar ia tak lurus arah
Tamsilmu simalakama
Nun ku sadar sedari lama
Inilah iramamu cinta. 

Crb, 14 okt'19.
Tisna Barbatully.



MISTIKUS HATI

Ketika hati
Berpegang pedang keajaiban
Menebas jalan 
Tuk runtuhkan kemustahilan
Keistimewaan baginya biasa
Kokoh mentahta prinsip. 

Di rumpun sifatnya
Masa depan itu waktu lalu
Bersengketa dengan ketidak mengertian
Dan kemenangannya adalah hikmah
Keridhoan lebih awal dari amal
Selalu tersungkur di teras syukur. 

Segala predikat
Ia hanyutkan pada arus waktu
Sebab kakinya telah menjejak jauh
Bahkan pandangnya sudah menilas muara
Telah ia menunggu
Meski cerita masih di perjalanan
Begitu ia mempustakai
Bukan dipustakai. 

Cirebon,  14 okt'19
Tisna Hariri Barbatully. 
(prolog Keajaiban) 


Saturday, October 12, 2019

SENJA DI AWAN

Sudah berjalan di jalan ini
Bagiku tiada bersisi
Pun tiada kata kembali
Yang terjadi maka terjadilah
Tiada ku tentang apapun
Kecuali kemanjaan masa depan. 

Bahasa esok bersosok
Beraral bangkai kah wangi bunga
Menghias hirupan nafas
Terlambat bagi untuk cemas
Leher ini tiada paling 
Bahu ini tiada putar
Ku yakini persetujuanku
Meski tak setinggi Kemurahan'Mu. 

Biarlah diri berbahasa cinta
Asa tersenyum bila menutup mata
Atau mengucur kemerahan isi dada
Tercurah habis genangi waktu
Menjadi sampul cerita kalbu
Ku ikhlashkan Kehendak'Mu
Duhai Pemilik'ku. 

Cirebon,  12 okt'19
Tisna Hariri Barbatully


Thursday, October 10, 2019

ESSENSI DAN IMAJI

(Prolog sya'ir mistikus) 

Sukma ini selalu berjalan
Pada titian abai tanpa badan
Menggapai pintu pintu kemasgulan
Asa kan genap citra insan
Meski bukan bahasa keumuman
Nun inilah keyakinan. 

Berselancar ke padang misteri
Berbekal kalimah samawi
Meninggalkan unsur inderawi
Layaknya prilaku budi
Membilah pintu pintu sunyi
Berkhalwat tanpa analogi
Menekuri ihwal sejati. 

Jatuh bangun tertegun arung
Mungkin dosa berat ditanggung
Atau asa salah dijungjung
Pencarian bak tak berujung
Mencoba maknai alun
Aral kalbu apakah jantung
Mungkin fikir berbeban pasung
Terlalu lama ikhtiar menaun.

Nun yakin suatu saat
Pencapaian kelak didapat
Syarat sabar dari hasrat

Tiada utama berluang cepat
Mungkin jalan melepas sifat
Upaya diri akan tertambat
Andaipun nikmat jadi kafarat
Diri berta'zim pada isyarat
Syaratmu ku syirat. 

Cirebon,  10 Okt'19
Tisna Barbatully




KUTUB MANIS

Aku mendengar
Dari kutub manis ia menangis
Tersudut Kesepian segumpal hati
Mengendap lara jiwa nan dahaga
Terkikis bahagia nan sunyi
Lirih menabir rerasa. 

Dan kini memula
Ayun langkah ke sana
Satu terpinta dari do'a
Beban harap sirnalah
Bermuara pada Daya'Nya
Tertulis di suhuf makna
Di jilid masa yang ada
Haikal anak manusia
Dari masa ke masa. 

Rintih ini manusiawi
Goresan sifat insani
Merangkum jejak maknawi
Tuju mahkota ikhsani
Berbekal iman di hati
Mengayuh salam duniawi
Menadah Ridho Ilahi
Menta'wil lalu mandiri
Dilingkar hidup bersegi
Akhir noktah maklumi. 

Crb,  10 okt'19
Tisna Hariri Barbatully



Tuesday, October 8, 2019

GENERASI TRANSISI

Aku ingin tersenyum
Menyimpul gelora'mu
Menyeru issu politika 
Keliru ranah. 

Ooh andai saja
Nyali'mu nyata
Tangan kami terbuka
Mensejatikan gelora. 

Uuh kamu di maya'mu
Kenapa mesti berlaku semu
Buang waktu pun daya'mu
Menghasut sesama'mu
Tuk turuti benci'mu. 

Crb, 8 Okt'19
Tisna Hariri Barbatully.


ALEGORI HATI

Dahulu waktu
mengubur cerita
dan cerita itu menyembunyikan cinta, yang di dalamnya tertanam rindu
Rindu yang berbiji harap
Harap menanti kebahagiaan.

Kini masa itu
Memekarkan segala yang tumbuh
Menampakan dari ketersembunyian
Menjelaskan segala kerinduan
Tersebab sejuknya sapa
Tenteramnya ketulusan
Dan kokohnya kesabaranmu.

Wahai sesuatu yang berada
Entah di dalam dan di luarku
Entah yang terjangkau indera atau selain itu
Sebab engkau adalah keyakinan
Yang lama membimbing diri
Untuk saling mencari
Dan untuk saling mengenali
Hingga untuk saling mengerti
Maka, izinkan'ku untuk berterima kasih.

Crb, 8 Okt'19
Tisna Barbatully.





Monday, October 7, 2019

TIARA CITA

(prolog keajaiban) 

Juntai cahya rembulan
Pautkan angan padamu
Nan senantiasa melambai
Ajak diri larutkan asa
Akan indah warna bahagia. 

Jangan sekejap dekapan impi
Pangku rinduku kalbu padamu
Biar riak beraral onak
Sirna semua dikibas setia
Kokoh penopang seisi dada. 

Cahaya jiwa engkau merona
Juwita agung gemulai anggun
Terharap hidup tak pernah redup
Cukup ku dekap cahaya harap
Penyuluh langkah tuju bahagia
Betapa indah engkau pesona. 

Cirebon, 7 Okt'19
Tisna Hariri Barbatully

https://youtu.be/bfHH6YImnZs



Saturday, October 5, 2019

TAPAK MAYANG

(Syair Mistikus) 


Dari masa transisi
Skema global
Hingga era millenial.

Merintih moral
Diseret waktu
Terbelenggu hidup.

Memeras intelektual
Menetes ke hati
Damailah akhir
Terharap. 


Cirebon, 5 Okt'19
Tisna Hariri Barbatully.


Friday, October 4, 2019

ENGKAU HARUS TAHU
(Sya'ir Cahaya Jiwa) 

Di kisah hidup menulis diri 
Hujan sepi dera sunyi
Hati berkidung lirih
Suram menghantui. 

Nun mata menghujam pandang
Siluet dunia begitu terang
Cahayai asa benderang
Indahmu berdendang
Semesta kalbu terpukau mayang.

Lembut ia membelai
Setia begitu aduhai
Harapan bahagia melambai
Asa jatuh hati terkulai
Masa tersenyum berandai andai
Cahaya jiwa amoi nan amboi
Ku kagumimu tak usai. 

Kabut senja pupus sirna
Tak lagi mentabir mata
Kering hati subur berbunga
Ranum masa di hadap sana
Kilau dunia entah kemana
Saat hadirnya cahayai jiwa
Kisah ini bukan musim tetapi syurga
Ku mendambamu ketahuilah
Hanya padamu tertuju arah
Terima kasih Duhai Nan Maha Cinta
Berkahiku akan adanya. 

Cirebon, 4 Okt'19
Tisna Hariri Barbatully.