Pada akhirnya
Aku terkapar batin
dunia sangkakanku telah tiada
Karena terkapar
Membusuk mereka pandang
Dan burung-burung bangkai
Berpesta, menyantapku
Dengan berebut hidangan penghinaan
Hati ini dikoyak-koyak paruh dunia
Mungkin inilah akhir hayat satu niat
Perih tersayat-sayat
Aku hidup dianggap mayat
Kuberi air jernih tersiram juga wajah ini
Aku berhenti, aku tak mampu
Tuhan, Engkau Maha Tahu
Yang kusampaikan adalah kalam'Mu
Bukan nafsku
Terburu-buru penghinaanmu
Sebelum datang pemahamanmu
Sungguh mudah sekali kau sakitiku
Sedang kapan kau mengertikanku
disini saja simpang jalan
Esok lusa tiada kan terulang
Aku tiada punya jawaban
Karena punya pun
semata salah yang terkesan.
Aku terkapar batin
dunia sangkakanku telah tiada
Karena terkapar
Membusuk mereka pandang
Dan burung-burung bangkai
Berpesta, menyantapku
Dengan berebut hidangan penghinaan
Hati ini dikoyak-koyak paruh dunia
Mungkin inilah akhir hayat satu niat
Perih tersayat-sayat
Aku hidup dianggap mayat
Kuberi air jernih tersiram juga wajah ini
Aku berhenti, aku tak mampu
Tuhan, Engkau Maha Tahu
Yang kusampaikan adalah kalam'Mu
Bukan nafsku
Terburu-buru penghinaanmu
Sebelum datang pemahamanmu
Sungguh mudah sekali kau sakitiku
Sedang kapan kau mengertikanku
disini saja simpang jalan
Esok lusa tiada kan terulang
Aku tiada punya jawaban
Karena punya pun
semata salah yang terkesan.
No comments:
Post a Comment