Saturday, October 4, 2014

Titipan Senja

Asaku,..
dido'amu ada namaku
disenjamu ada hadirku
ku titip salam pada sang bayu
mengganti musim dingin berlalu
dan tenteram kita selalu.

Tentangmu,..
aroma seribu bunga
nun tak sampai ke kutub utara
beku dan gersang nyata berbeda
segala yang usang biarlah sirna,

Ada mimpi diukir sastra
ada hati bertembang cinta
ada bukti lahirkan nista
yakni noda menjadi cela
gugur bunga jatuh dan fana,


Cerita Rindu

Saat ini,..
kan mungkin rasaku bukan kiasan
pun yakin hadirmu bukan hiasan,

Dan nanti,..
ku untai getar insani
bak dawai cipta melodi
senandung tu sang kekasih,

Dan bila,..
terbentang masa tuk kita
membasuh jelaga lama
yang keruh bersimbah noda,

Semoga,..
di riuh hadirmu nyata
di hening selalu menjelma
menyingkat ruang dan masa,-

 


Suntingan Angan

Wajahmu, sedap dipandang
bayangmu, selalu ku undang
menari, indah di angan
menabur, derai senyuman
selamanya, jangan menghilang.

Ooh,. Dewi, bunga di hati
mekarlah, tak hanya mimpi
di sunting, rasa indrawi
laksana. embun nan jernih
pesona, hayati hati/

Dan bila, masanya tiba
khalayak, anak manusia
bertitah, Adam dan Hawa
tuk satu, memaut jiwa
mengikat janji setia.



Friday, October 3, 2014

Cerita Yang Tak Sempurna

Malam dan malang
setelah hilang dari pautan siang,
gelap bertembang
melagukan lirik-lirik sumbang,

Aku yang jatuh
tersungkur di lembah pilu,
memanggil tak dihiraukan waktu
hilang gerak mati kutu,

Salahkah bahu
lambat berjalan karena bebanku,
acuhkan impian dalam tidurku
di kesadaran ku sandarkan kalbu.



Pantun Semusim

Mawar setangkai menghias taman
merahlah warna dihijau waktu
tawar kurangkai paras idaman
rebah pesona diigau palsu,

Setangkai melati jadi kiasan
menghias kata berindah indah
merangkai hati hanya ucapan
selepas rasa akhirnya gundah,

Taman kalbu harus dijaga
seperti putih bunga melati
Jangan dulu berkata cinta
bila akhirnya berganti benci,-








Tiada Berbeda

Glamor, itu gayanya
amor, ala hidupnya
sohor, jadi mimpinya
slebor, motivasinya
kotor, pada akhirnya,

Awan mendung
menjadi kidung
menuding tudung
sebanding terkandung
asing mengungkung
alim berselubung
membuat bingung
majnun !






T A N Y A

Negeri,..
Pemimpinnya kurang kursi
hilang rela mengabdi sambil berdiri
maklum banyak hutang pribadi
berupa materi dan jua janji,

Politikusnya sikut-sikutan
birokrasinya asyik suap suapan
pejabatnya lupa daratan
LSM ketularan,

Penyakit gila
penyakit latah
menyebar merata
negeri begini salah siapa ??




Elegi Kidung Hati

Katup anganku terbuka
berpaling dari nyata dan terlena
berdiri ditatap paras bumi
bersama riuh hidup menari-nari
batinku gersang panas memanggang
keringnya ladang berdendang
kemarau bak tak pernah usang
denganmu ceria
tak kenal tak pernah jumpa
seakan enggan bertegur sapa
sesekali berpapasan langsung berpisah
wahai ruang kering
abadikah dawaimu berdenting ?
menceritakan nada nestafa
mengiring lirik sya'r-sya'r fatamorgana
tidakah hidup berganti rupa
disusun warna menyulam cinta
ataukah ia seperti pelangi
yang hanya ada sesekali ?
mungkin ia berwujud mimpi
saat terbangun hilang bunyi
tertidur lagi tak lagi ditemui
kebahagiaan,..
engkau bak rembulan
yang indah dalam tatapan
diundang tak datang
dikejar tiada harapan,-





Senandung Cinta

Manja bahasa penyinta
berharap biasa
akan selalu bermesra
mencerai masalah
mestinya dewasa,

Rapuh disaat merindu
bahasanya tak lain kamu
bertemu menyatu
selalu begitu
sejak dari dulu,

Dalam cinta ada rahasia
hakikat menyerta
tiada terjemah
yang mudah menjamah
mari di telaah,

Bahasa rindu lebih dimau
segala tak ingin ditahu
kadang membuat rapuh
sedikit yang utuh
yang lain membatu,




Semoga Hati

Tiada terpungkir lagi
tentang nikmat membelah hati
sebelah dilangit setengah di bumi
dua mendengarkan satu menuliskan
dua membacakan satu mengartikan
terlukis atas dasar tiga jemari tangan
sungguh pemalu kalbuku
yang hanya mampu menulis rindu
disapa dunia mau tak mau,


Betapa jenaka ku punya pustaka
inginkan dunia seperti terpinta
ingkari akhirat bak tak akan ada
jadi isyarat insan menghamba
ku bukan tuan tetapi pekerja
jalankan peran bukanlah sutradara
sebagai kiasan lapangnya dada
karena baban bahu merendah
karena pengetahuan menunduk wajah
dan karena lemah ku panjatkan do'a,-






Malam Kita

Tentang cerita malam
setelah akal menggapai rasa
setelah rasa semua biasa
setelah biasa bias tak menyerta
setelah nyata memaklumi gulita
setelahnya semua bermanja
setelahnya melaju saja
sebut saja aku salju kutub utara
atau katakan samudera antartika
lalui lautan api pada diri
lewati lautan gelap yang nyeri
meninggalkan benderang
Jalani lengang
menanti kenangan di masa depan
sengaja ku undang sebelum datang,-







Seruan

Jalan dakwah
ada tamparan yang menggoda
ada jalan saat terjaga
ada himbauan yang dirasa
ada kiat-kiat yang indah
ada pesan tentang pesona
ada kiasan yang disengaja
ada tawa yang disuka
ada pemberian yang diterima
ada manfaat disuatu masa
ada nikmat yang maya
ada ajimat yang mandraguna
ada cerita tentang kenangan
ada arti yang dimengerti
ada suka pula berat hati
ada yang tak mampu dimengerti
ada yang sekedar bunyi
ada visi pula misi
ada kebiasaan yang mengisi
ada toleransi dan dispensasi
ada bunyi jua seni
ada gen dan generasi
ada diskriminasi
ada yang terjual ada terbeli
ada yang ingkar
ada yang rendah jua meninggi
ada yang umum atau terkhususi
ada yang di kepala dan sampai kehati
ada yang terlupa ada yang abadi
ada yang akhir ada yang mula
jalan Dakwahmu indah
Terima kasih turut menyerta
mengiring do'a untuk semua
semoga Berkah Lillahi Ta'ala,-




Senja Meremang

Senja yang melihatku
dan aku yang tersipu
bersemilir rasa ku ukir
yang mengalir di hati hadir
kelopak kita di kuning tembaga,
Datang remang merembang petang
telah berjalan lelah di siang lapang
pada Ridho'Mu daku merayu
tuntunlah daku semestinya rindu
berawal akal lalu rasaku,
Cerita kita dendang jenaka
mencari harum di kuncup masa
bilakah mekar harapan jiwa
lalui sukar tetamu hamba
mengajak ingkar amanat jiwa
bagai kelakar senyuman nista.





Diantara Mata

Ooh,.. kamu tetamu
senja meniti bagai berlari
mandi sang dewa dewi
di danau cahaya jernih
terpadam percikan
diguyur tembang samawi
menceritakan pesan
diraut siratan
bunyi bahasa tanpa suara
basahi kalbu sampai dahaga
tembangkan rindu
karena cinta,-




Pengekor

Ini zaman lembu merumput
berkerumun di padang lega
keledai-keledai barat makan di timur
merampas tunas pendekan umur
sia-sia engkau melata
berindah indah beringsut dusta
banyak habitat turut menyerta
berpinggang ketat erat nun nista
aku tak cemburu dengan kesanmu
meski yang lain tertanam rindu
biar membeku kalbu membatu
itu jalanmu bukan arahku,-







Bertolak Hati

Seperti sang bayu
malam turun dari bebukitan
meliuk tanpa sekatan
membuat samar pandangan
merengkuh kotaku nan kusam
lalu segala diam segala lengang
membaca prasangka isi kepala
nyaris celaka sesak di dada
kelam sehitam jelaga
sedang tiada tanya mengapa
lunglai diri di pangkuan hati
ku tutup pintu lalu ku kunci
setelah dunia bilang permisi
balikan badan beranjak pergi
saling menjauh membelakangi
tiada pernah menoleh lagi,-







Awal Memula

Kecuplah subuh yatim piatu
belailah embun menimbun daun
jernih di ujung membuat lengkung
jatuh didukung dilambai daun
saling melepas berayun-ayun,
Sebelum keruh kan dimulai
disengat hasrat manusiawi
yang telah lekat haqul adami
do'a bersemat memula hari
mentari lewat mari syukuri
sebagai nikmat dari Illahi,-






Fitnah Asamara

Cerita kita kumbang dan bunga
di padang rumput seri nan indah
saksikan musim penuh nuansa
diiring merdu bedug bertalu
bermula takbir pertanda subuh
ada rindu sekerat kalbu
terasa berat dalam mimpiku
rasa bersurat syahdu untukmu
lama menjerat alam rasaku
hampir sekarat berat bebanku
bagai ajimat ku rawat selalu
lacur melumat alam hayalku
syirik menjilat karena hausku
bagai muhjizat alam sadarku
sebagai Rahmat Penggenggam kalbu
tiada dunia beri sekutu
yang lain sirna Hanya Yang Satu.






Prasasti

ujurlah wahai pelantun
kuburlah jika tak santun
berbudi elok menuntun
berbagi berkah tersusun
selagi diberi maklum
tak sadar disebut majnun
dan pudar jadi al-marhum,
Masa kita menanam kembang
rasa kita lantunkan tembang
bila jiwa ceraikan badan
segala sempat takkan terulang
terpejam diam tidur dilubang
terbujur lelap membawa beban
huni pusara bertihang nisan,-






Dia Berkisah

Dahulu anak itu masih beribu
sepanjang waktu dibuai selalu
jika datang satu masa
kasih ibunda tersendat lara
jalani sakit yang telah mendera
ditepian ranjang alam hunian
memberi perawatan siang dan malam
waktu melemah semakin suram
lemas kaki tak mampu melangkah lagi
harus digendong sepanjang hari
anak itu setia menemani
apalah dikata takdir mendapati
dipangkuan ibunda pergi
tiada sekejap pandang terlewat
jiwa terguncang begitu hebat
jangankan menjerit berucap pun tak dapat
hanya kenangan masih teringat
dan airmata terasa hangat
itulah duka teramat menyengat
terturut sebagian nyawa tersemat
kini ananda jadi ajimat
diwajah dunia hampa tak nikmat,-







Renungan Senja

Lubuk kalbu dipangku
rindu dihadapan,
asa di bola mata
kenangan tak terhingga,
Akal,..
tak bersediakah engkau mengubur lara ?
Hati,..
tidakah engkau artikan bahagia ?
Senja kan berlalu,..
malam terasa mulai merayu,
tawar menawar nalar dan kalbu,
di tepian rasa daku termangu
sebagai kafarat masa laluku,-






Sunday, September 21, 2014

Buah Kisah

Untukku wahai kalbu,..
Aduhai Zdat Semesta Kasih Semesta Sayang
hidup hanyalah seuntai waktu sekejapan adegan
diperselisihkan harapan dan cobaan
mentabir Tauhid meniraikan Tahmid
menyekat tahlil memalingkan Takbir
sepertiku yang terlalu lama lalai
menadah berkah Ilahiyyah dengan kaffah
yang semestinya menjadi arah,..

Dan untukmu,..
jika kau tak lagi mampu
untuk bertahan di ruang sunyiku
teruslah berpuisi menyanjung seni
berfikir untuk banyak memberi
sedang terlupa Ilmu tuk didapati
teruslah bicara sampai lupa mendengar
teruslah bercerita sampai tak diceritakan
karena pelajar menuliskan sendiri sejarahnya
disimpan masa tuk diceritakan masa
meski pada ruang yang berbeda,-

Crb, 21 Sept'2014
Tisna Barbatully


Tuesday, September 2, 2014

Akhir Aksara


Ku huni hayat diri
di sisa waktu tak terpungkiri
meski redup hikayat hidup
walau gersang dalam cengkeram
uji dan coba menari jalang
liar berakar nodai nalar
di lumat seringai kesumat
mencari jejak di kata nikmat,

Ooh,.. sudahkah masanya
do'a hamba menabur bunga
di nisan angan meraja lela
lupakan asa pusara jiwa
bagai binasa suram cerita
mengikis hati berkisi-kisi
rebah dan gugur menghuni sepi
jasad tersungkur tak ditangisi
menutup diri pintu terkunci
di ruang akal lelap sendiri
khilaf terjungkal hati berperih
tiada tersangkal bak di kaca puri
terbungkus senandung sakral
tangisi khilaf yang tetap binal
terenggut paksa datanglah ajal
dan tiada sempat jauhi dajjal
di ruang si'jin sesak berjubal,-




Di Dua Cincin


Dua cincin di atas kertas
beruntai kata tanpa laksana
jatuh tautan nyaring bunyinya
di sambut sumbang rasa kecewa
sebagai tembang keruhnya cinta,

Bila waktu terasa menjauh
tinggalkan kalbu diusik bayu
rapuh dan layu sekerat kalbu
jadi elegi cerita semu
kusam tersimpan menjadi buku,

Geram dendam tiada padam
dunia keji lancang menerjang
kesip terbuang akal fikiran
jentikan jari terbayar hutang
namun terhenti mengingat Tuhan
segera berdiri cari pegangan
semoga terang menuntun tenang,

Sakit dan malu pekikan jiwa
nyaris bernoda ruang di dada
di dalam darah ada kasihNya
begitu miskinkah Iman di punya
do'a bersimpuh bersujud hamba
di uji badan terbidik nista
bak dijurang mati kini berada
membawa hati di kandung raga,-

Bangunlah Tuan


Malam berkalung rembulan
awan menikam kelam
tuan bangunlah,.. tuan
dengar waktu selalu berpesan
fajar telah keemasan,..

Tuan,.. tidakah terasakan
riuh dunia kian gersang
nurani jangan impikan
hati jangan hayalkan
jalani coba wujudkan,..

Tuan pandang di sana
yang hakiki penuh nuansa
rasa sejati mutlak warnanya
sebagai pesona alam nirwana
rayuan hidup dusta semata,..

Kasanahnya adalah cinta
kemesraannya seranum bunga
yang selalu kuncup jua setia
menanti mekar terkandung jiwa
salam dan salam jadi madunya,-


Dunia Pelangi Pulau surga


Pulau surga
yakin meraga
yang haus dahaga
berharaplah nyata
selayaknya do'a,

Hidup tanpa desiran
mewujud harapan
tiada halangan
segala kenikmatan
sebagai Rahmatan,

Jambang pelangi
tembang berhati
berkembang melati
pesona mimpi,-

Tiada Berbeda


Glamor itu gayanya
amor ala hidupnya
sohor jadi mimpinya
slebor motivasinya
kotor pada akhirnya,

Awan mendung 
menjadi kidung
menuding tudung
sebanding terkandung
asing mengungkung
alim berselubung
membuat bingung
,.. majnun !


BAGIAN PALING BEROMBAK DI LAUTAN ADALAH PANTAI


Gelayut manja itu risaukanku
ada kesan di indahnya ke akraban
letup pijarnya bewarna tak biasa
sesak hati mulai mengundang lara
Ooh,.. hati yang mana yang harus ku jaga ?
hati ini,.. kah hatinya ?

Telah panjang waktu bahtera ku kayuh
semakin dekat asa berlabuh
ombak mengguncang dalam gemuruh
cobaan semakin kencang oleng langkahku
tiada bayang menyambut datangku
kemana rindu janji manismu ?

Bila semu di rasa indah
fatamorgana kian pesona
tak tegak langkah dan putar arah
lengkungnya tulang ku anggap patah
niscaya sulbi berganti rupa
berganti insan dan berganti nama,-

Aku Dan Kamu

Kesan dalam siratan
pesan dalam suratan
ku tulis ajakan sebagai jawaban
mari sama-sama kita jatuh
rasakan luka di lembah pilu
agar kau tahu arti dukaku
yang terlalu lama kau anggap kaku
lalu kau pongah dalam bahagia
tengadah dagu beraku-aku
membusung dada tulis sombongmu
dan mari kita saling sentuh
tentang rindu berbahasa satu
,... kalbu.



Seruan Harapan


Sayap senyap mengepak
gelap pekat mulai nampak
bahagia menjadi arahan
bahasa harapan tercurahkan
jadi senandung jiwa dan badan,

Wahai pintu desiran kalbu
akankah semestamu kan selalu biru ?
kami menyeru sedalam kalbu
adalah bahasaku suarakan rindu
mengurai makna yang daku tahu
tentang jelaga bilakah terbasuh
sepanjang waktu menyerta selalu,-


Pelajar


Candamu,.. canduku
hingga parau kodrat ku gurau
berkayuh berpulau-pulau
cerita hidup nan kian lampau
dengan mata kenangan kadang ku tinjau
sekedar siaga di depan syarat beranjau
sukar titian memanglah membuat risau,-


Jika Tiba-Tiba

Menari bersama mimpi
setelah senja menggapai matahari
mempersaksikan rembulan jatuh di cawan malam
setangkuk do'a pelan di untaikan
mengapung bersama sir' dan gerak bibir
menepis senyum hidup yang mencibir
menyemai biji harapan hati
bersingkap angan di silang tangan
berakhir di garis tapak tangan yang di tadahkan
satu mimpi di tunjuk hati
sebagai pilihan yang terhayati
tentang hitam memudar putih
tentang cahaya yang berkilau
tentang sahaya yang mengigau
betapa pagi asa terjangkau
sebelum pergi berkata "Jikalau",..

Wednesday, August 13, 2014

Uraian Garis Tangan

Kodratmu rasa
mengarungi masa
di samudera cinta
mengayuh membuta
tak kenali arah,

Pantaimu jauh
mengelu rindu
asa bak layu
tujuan jauh,

Masih ku bingkai hati
dengan air mata jernih
memegang janji
setelah kembali,

Pada Yang Agung
do'a bersenandung
jika tak sampai di hujung
kisah ku usung,-


Tembang Bunga

Lancang malam kau goncang
bak mengharap purnama berjalan pincang
angin yang berhembus kau tantang
dan gelap berselisih menentang
pijaran cahaya kilauan bintang,


Di ufuk bumi sendiri
bersimpuh mengaryakan hati
seonggok jasad bernyanyi
meniti arah tak pasti
mencari bahagia yang sembunyi,


Kisahmu bunga
harumnya sirna
kusam tak bewarna
memupuk jelaga
yang khusuk mencela,-



Perjalanan

Tempat yang ku tuju
bukan tempat yang pernah ku lalui
ruang yang ku cari
bukan ruang yang akan ku tinggalkan
dan nama yang ku ingat
bukan nama yang akan ku lupakan,

Bilakah namamu
yang tiada akan terhapuskan
menjadi keindahan
sedang tak pernah usang
sepanjang jalan dan zaman
di masa depan,-



Catatan Malam

Cahaya hitam membentang
warna abadi malam nan sepi
terdampar di kaki langit
dengan keluh kesah ku rakit
mengarungi cakrawala dunia
berbekal seuntai kata
sebagai hiasan indah
di hati dan isi kepala,
mangalir ibarat air
mengukir bukan menukik
jatuh jangan terhempas
hilang jangan di lupakan
semua nyata pembelajaran
pun hiasan indah jiwa dan badan
maknai rasa tak berkesudahan,-



Senandung Malam

Di kaki malam
bumi ku pijak kelak ku tiduri
langit nan jauh di ubun-ubunku
sesaat suara-suara hilang
melintas gerak di padang lapang
gentar berlaksa-laksa rasa
sadarku bak embun lekat di bunga
deras daun kering di arus mengalir
air mata berbutir-butir
menyusun tangis dan jeritan getir
tanpa pertolongan melolong
jerat dan pikat nikmat mengikat
godaan terlanjur di suratkan
gelora fana dalam goyah
rapuhku kukuh yakin tak teguh
ku suarakan do'a-do'aku
semoga tak tergadai jiwa nan lalai
dengan sekerat ikhlas ku berandai-andai,-



Selalu Akan Ada

Ku ucap lembut agar bersambut
panggilan mesra ungkapan jiwa
mengiring niat sapa terpanjat
dalam pujian tiap ketukan
mendekap ingin rasa di badan
ibarat puing ku jadikan tiang
membangun istana dari serpihan
sebagai kencana panji harapan
sampai berkibar hasanah hati
meski pesona alam hayati
enggan merona menerpa diri
dan tak tiap malam dihias mimpi
namun ku yakin pagi berseri
tawarkan indah bunga bersemi
menutup gundah gersangnya bumi
berenda do'a yang memagari,-



Wajah Kita

Bila siang cukup terang
cukup mentari memberi hangat
ada harapan yang menjerat
sesekali datang tersirat
tentang rerumputan
tentang gemerisik dedaunan
yang berderai di urai sang bayu
berhembus memberi rindu
sekelumit cerita tentang alam lalu
alam damai yang telah tergadai
kini anak pengembala berkidung lara
berteman kledai kurus memelas
dihempas alam mulai mengganas
padang hijau kini telah hilang
rerumputan terpendam nyalang
wajah bumi berwajah gersang,-



Persembahan Malam

Yang menua adalah fitrah
yang selalu belia adalah hayal
yang selalu berganti ialah mimpi
yang ku tinggal adalah kenangan
yang mendekat ia kematian
yang memaksa adalah kelupaan
yang berhias meminta perhatian
yang bersabar hanya ketenangan
sedang yang bergelora tak lain harapan
seperti harapanku untukmu
semoga selalu indah masamu
seindah do'a-do'aku
yang kan selalu menyunting senyum
laksana rembulan nan kian ranum
bila dapat kau petik jernih
sebelum senja hilang menepi,-



Di Bulan Terang

Merpati malam terbang
hinggap di dahan pohon salam
lewati ilalang senja
melepas gurun kering yang menyapa
basah kalbu telah merindu
membuka pintu renungan
rembulan bak kelopak mawar putih
merekah cahaya sejuk di hati
berdaun cahaya bintang gemintang
angkasa menanti tasbih bumi
seiring rerumputan menghijau
sang bayu bersurat merdu
desir hati menadah lengan
yang keriput didera masa
kumasuki bulan penuh gempita
bulan merah penghangat jiwa
semangat dari seberang yang menyala
tengadah cawan pelipur lara
membasuh keruhnya jiwa
ada harap dalam prasangka
yang menggantung di angkasa,-




Sebait Hati

Bait-bait sunyi bernyanyi
sejenak benak bersajak
dari diam kidung baranjak
menggeliat dari rantai malam
membiarkan sepi tenggelam
di ruang hampa membawa jelaga
hanyut naluri dalam tanya
gemulai hayal melambai
bak mimpi menanti
saat diri dibelai bidadari
bernaung lengkung pelangi
merelakan segala bahasa hati
dalam suara cinta di ujung sana
yang kan ku jemput dengan bahtera
seiring samudera masa yang tengah ku belah
menggapai lambaian angan
yang kan terjabat keindahan
menanti di batas pulau seberang
engkaulah nama yang takan pernah usang,-



Riak Dan Lara Hati

Engkau yang pernah ada di suhuf jiwa
di tuliskan oleh hatiku teranggap sementara
di hias dilema-dilema yang nyata
pudar terang tersimpan saat malam
tersebut kemalangan tiada terbilang
bagai jarum tajam kisah ini bak menghujam
sampai kehati nyeri penuh terisi duri
merekah luka-luka yang sama
berdarah-darah bak nyata
mengutuk cinta dikutip kata
terbiar kesannya membakar
sebongkah dendam coba ku redam
tak mampu dipendam jalang
lalu mengalir di arus liar
menuju muara kelam
sedang menancap batu nisan
seakan satu nama siap dituliskan,-



Jelaga hitam
dari kayu terbilang
terbakar api yang nyalang
kering hangus kerontang
pujangga menuliskan suara-suara
terkadang berkisah lara
ada kata tersebut salah
ada rasa tak mampu menerima
mengapa layu yang ku sentuh
ini belaianku dari kalbu
kau tolak bahasa rindu
cinta tak bersumbu di hatimu
terpantang namaku
digurat gemulai jemarimu
ditimpa nama lain yang kau ingin
kisahku patah dalam serapah
kesan menumpuk resah
hanya padamu malam ini ku kisah
betapa pilu bahasa kalbu nan mendesah
terlalu panjang malam-malamku gelisah
putus ikatan bernama muhibbah
dalam sekatan dendam hati
karena nyata tak saling memiliki
kini yang tertinggal hanya mimpi
sedalam jurang yang tak bertepi,-



Seruling Dan Mawar

Tentang seruling dan mawar
indah dimata merdu didengar
dihayati kan terenyuh hati
di mainkan tak mengingat mati
bersimbol bak urat nadi
rindu jatuh di palung kalbu
saat mengering cinta berlalu
di mawar tersingkap duri
menyeringai tajam membelakangi
yang tersisa hanyalah suara-suara
senyatanya tembang telah tersia-sia
berawal indah berakhir celaka
tiada akhir silang sengketa
noda diukir dilubuk jiwa
esok terpungkir didunia nyata
bagai mubazir semua terkisah
mungkinkah daya tiada berkah
jangan terulang na'udzubillah,-








Selubung

Ya Maghrub kelam penutup
esok tiada kan syurup
mentari termaktub
tak mekar pun kuncup
di jantung berdetup,


Perlu penafsiran panjang
penting kelapangan ruang
biar yang berbisik cuma nurani
yang mendengar hanya telinga
yang menatap hanya mata
digapai lengan dilangkah kaki
semua adil pada porosnya
tak sempat beraku-aku
adalah sibuk berliku-liku
menuang rasa berbuku-buku
itulah aku dan kamu,..


Kiasanku

Pesonanya dulu
mimpiku yang lalu
berangsur bias
bersikukuh jauh

serasa dicinta dusta
serasa asing berkata
hilang nikmati rasa
mengharu tiba-tiba

Seisi hati
tembangkan diri
entah kan dapati
asa berselisih
parah terjadi

Kita pendendang
dialam yang kian remang
kalimat buram
bagai merejam
lebih dari mengulang,..




Kayon

Kayon
pustaka ing lakon
sejarah pitakon
mujure ngetan ngulon,

Garwa
sesigare nyawa
penguat-nguat rasa
andon urip tanduran jiwa

Kirata
kenging di kira supados nyata
anging kepungkir kang tutup mata
daya sumingkir mugia berkah,-